Ubeisme
Jumat, 10 November 2017
Kamis, 09 November 2017
Jurnal EM-4
Daya Cerna
Protein Pakan, Kandungan Protein Daging, dan Pertambahan
Berat Badan Ayam Broiler setelah Pemberian Pakan yang Difermentasi dengan Effective
Microorganisms-4 (EM-4)
Digestibility of feed protein, meta protein content
and increasing body weight of broiler chicken after giving feed fermented with Effective Microorganisms-4 (EM-4)
HANIFIASTI WINEDAR, SHANTI LISTYAWATI©, SUTARNO
Jurusan
Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta 57126. Diterima: 13
Juli 2004. Disetujui: 8 Agustus 2004.
ABSTRACT
Effective Microorganisms-4 ( EM-4) is a mixture consists of
photosynthetic bacteria, lactic acid bacteria (Lactobacillus sp), yeast (Saccharomyces
sp), Actinomycetes and fermentation mushroom (Aspergillus sp, Penicillium sp).
EM-4 able to increase digestibility capacity through the balancing of
microorganism in digestive tract. The objectives of the research are to know
the influence of giving various concentration of EM-4 fermented feed on feed
protein digestibility, meat protein and increasing body weight of broiler
chicken. Complete Random Design (RAL) involving five treatments with five
repetitions were used in this study. The treatments given were subsequently of:
addition of 5% (PI), 10% (P2), 15% (P3) and 20% (P4) of starter solution and a control group (P0) without any addition of
starter solution. The Broiler Chicken used was 25 broiler cocks produced by
CP 707 of PT. Charoen Pokphand Jaya
Farma. The protein content was measured by Kjedahl method. Collected data were
then analyzed statistically by ANOVA and followed with DMRT test with
significance level of 5%. The result of the research indicated that the
treatment significantly increased the digestibility of feed protein, meat
protein content and increasing of body weight of broiler chicken. The use of
EM-4 at the concentration of 15% (P3) increased feed quality and feed
efficiency by increasing feed protein content. Therefore, addition of EM-4
fermented feed could increase feed protein digestibility, meat protein content
and increasing body weight of broiler chicken.
PENDAHULUAN
Pemenuhan kebutuhan protein hewani tidak terlepas dari peningkatan
populasi ternak yang berimbas pada peningkatan jumlah dan kualitas produk.
Peningkatan produksi ternak bergantung pula dari pola dan kualitas pakan.
Peningkatan efisiensi kecernaan bahan pakan dan nutrisi dalam tubuh ternak akan menghasilkan
produksi ternak yang maksimal (Hafsah, 2003). Ayam pedaging (broiler) merupakan
salah satu sumber protein hewani yang murah. Produk utama berupa daging dan
telur merupakan kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat. Keunggulan ayam
pedaging adalah dapat dijual sebelum usia 8 minggu. Pada usia itu berat
tubuhnya hampir sama dengan tubuh ayam kampung berusia sekitar satu tahun, sehingga
ayam pedaging merupakan saingan baru ayam kampung, yang dikembangbiakkan secara
khusus untuk pemasaran pada umur dini. Menurut Nesheim et al. (1979), ayam broiler mempunyai rasa yang khas, empuk, dan
dagingnya banyak. Kualitas pakan merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam
menentukan keberhasilan pemeliharaan ayam. Namun, biaya pakan mencapai 60-70%
dari total biaya produksi, usaha penekanan biaya pakan telah banyak dilakukan
melalui berbagai penelitian, tetapi penggunaan mikroorganisme yang mampu
mengubah susunan bahan organik menjadi susunan bahan organik lain yang lebih
sederhana belum banyak dilakukan.
Berbagai macam cara dapat dilakukan untuk meningkatkan kecernaan bahan
pakan ternak, baik sebelum dikonsumsi maupun selama dalam saluran pencernaan,
hal ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas ternak. Salah satu cara yang
dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan probiotik (Hafsah, 2003). Effective
Microorganisms-4 (EM-4) adalah salah satu jenis probiotik yang merupakan kultur
campuran dari mikroorganisme yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman dan
ternak yang dapat digunakan sebagai inokulan untuk meningkatkan keragaman dan
populasi mikroorganisme (Anonim, 2006). Menurut Higa (1980 dalam Sudarsana,
2000) penggunaan EM-4 dapat meningkatkan kesehatan, pertumbuhan dan kualitas
produksi tanaman dan ternak. EM-4 terdiri dari bakteri fotosintetik, bakteri
asam laktat (Lactobacillus sp),
khamir (Saccharomyces sp) serta
Actinomycetes. Deptan (1996) dan Subadiyasa (1997) menambahkan di dalam EM-4
juga terdapat jamur fermentasi (peragian) yaitu Penicillium sp dan Aspergillus sp.
Prinsip fermentasi adalah mengaktifkan pertumbuhan mikroorganisme yang
dibutuhkan, sehingga membentuk produk baru yang berbeda dari bahan asal
(Sabrina dkk., 2001). Menurut Winarno dan Fardiaz (1980), bahan pakan yang
mengalami fermentasi dapat meningkatkan nilai gizinya jika dibandingkan dengan
bahan asalnya. Melalui pengolahan dengan teknologi fermentasi oleh EM-4
diharapkan mampu meningkatkan daya cerna protein pakan, kandungan protein
daging dan pertambahan berat badan ayam broiler, sehingga terjadi peningkatan
efisiensi pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh pemberian pakan yang difermentasi EM-4 pada berbagai
konsentrasi, terhadap daya cerna protein pakan, kandungan protein daging, dan
pertambahan berat badan ayam broiler.
BAHAN DAN METODE
Waktu dan
tempat penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni- September 2005. Pemeliharaan
hewan uji ayam broiler dilakukan di Purwodadi, Grobogan, sedangkan pengujian
protein daging dan feses dilakukan di Laboratorium Biokimia, Fakultas Teknologi
Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Day Old Chicken (DOC) ayam broiler jantan CP 707 dari PT Charoen
Pokphand Jaya Farma sebanyak 25 ekor, pakan broiller 1 (BR I), pakan broiller 2
(BR II), desinfektan, vaksin ND (Newcastle
Disease), sampel (daging, feses, pakan) 1 g, campuran Na2SO4:
CUSO4: Se sebanyak 1 g, 100 mL akuades, 15 mL larutan NaOH-Na2S2O3, 5 mL asam borat, indikator BCG dan 50 mL HCL
0,02 N, 250 mL molase, 250 mL EM-4 dan air sumur.
Rancangan
percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL),
lima perlakuan dengan lima ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah penambahan
pakan dengan larutan starter 5% (5 mL
inokulan + 95 mL air sumur) (P1); 10% (10 mL inokulan + 90 mL air sumur) (P2);
15% (15 mL inokolan + 85 mL air sumur)
(P3) dan 20% (20 mL inokulan + 80 mL air sumur) (P4) dan satu kelompok kontrol
tanpa penambahan larutan starter (P0). Larutan starter merupakan campuran inokulan dan air sumur. Larutan inokulan
terdiri atas perbandingan larutan EM-4 dengan larutan molase dengan
perbandingan 1:
1. Fermentasi
pakan dilakukan dengan cara penambahan larutan starter dengan komposisi 40 mL EM-4 dengan 60 g pakan.
Cara kerja
Persiapan pembuatan larutan starter. Larutan starter dibuat dengan langkah-langkah
sebagai berikut: larutan EM dicampur dengan larutan molase dengan perbandingan
1: 1, yaitu larutan EM 50 mL dan larutan molase 50 mL ditambah dengan air
sumur. Campuran larutan EM-4 dengan larutan molase disebut inokulan (Wididana,
1995 dalam Widyawati dkk., 2002). Proses fermentasi pakan dilakukan dengan cara
menambahkan larutan starter pada
pakan (40 mL
: 60
g). Campuran pakan
dan larutan starter
ditutup dalam
kantong plastik, diletakkan di tempat yang
terlindung dari sinar matahari langsung. Proses fermentasi dilakukan selama
empat hari dengan pengadukan dan perataan setiap 24 jam, kemudian dilakukan
pengeringan dengan diangin-anginkan tanpa sinar matahari langsung selama kurang
lebih 2 hari.
Pelaksanaan penelitian. Pemeliharaan
dimulai sejak anak ayam berumur satu hari hingga berumur 35 hari. Tindakan
prefentif kesehatan dilakukan sanitasi kandang ayam dan lingkungan sekitar
kandang, serta vaksinasi. Vaksinasi pada waktu ayam berumur tiga hari dengan
vaksin ND (Newcastle Disease) melalui
tetes mata untuk mencegah penyakit tetelo. Pemberian perlakuan dilakukan
setelah ayam broiler berumur 12 hari.
Pengukuran daya cerna protein pakan (Anggordi, 1990), ditentukan dengan rumus:
A x B
A = Berat kering pakan yang dimakan B = % protein dalam pakan
C = berat kering feses yang dikeluarkan D = % protein dalam feses
Pengujian protein. Sampel
daging ayam broiler yang diuji berasal dari daging dada. Pengujian protein
daging dilakukan dua kali, yaitu: pada umur sehari dan 35 hari, sedangkan
pengujian protein feses dilakukan 3 kali, yaitu: pada umur 12, 24 dan 35 hari
disertai pengujian protein pakan. Pengujian kadar protein dengan cara Mikro-Kjeldahl
(Sudarmadji dkk., 1981).
Pengukuran pertambahan berat badan.
Pertambahan berat badan (pBB) diamati
setiap hari. pBB (g) = berat badan akhir (g)
– berat badan
awal (g)
Parameter Pendukung yang diamati dalam penelitian (Wahyu, 1997):
Konsumsi pakan (g) = pakan yang diberikan
(g) – pakan sisa (g)
Konsumsi
protein pakan = konsumsi pakan (g) x kandungan protein pakan
Analisis data
Analisis data dilakukan dengan one
way ANAVA dan apabila hasilnya berbeda nyata dilanjutkan dengan Uji Jarak
Berganda (DMRT = Duncan’ S Multiple Range Test) dengan taraf signifikansi 5%
(Yitnosumarto, 1993).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kandungan protein pakan hasil
fermentasi dengan
EM-4 Fermentasi pakan dengan menggunakan Effective microorganisms-4 (EM-4) selama 4 X 24
jam mengakibatkan peningkatan kandungan
protein pakan dibandingkan dengan pakan tanpa
difermentasi. Hasil pengukuran protein pakan yang difermentasi pada penambahan
larutan starter 5%; 10%; 15% dan 20% berturut-
turut adalah
23,76%; 25,07%; 30,01%; 24,88% dan perlakuan pakan tanpa difermentasi (kontrol)
19,19%. Peningkatan kandungan protein pada pakan disebabkan terjadi peningkatan
unsur nitrogen yang terdapat pada bahan makanan berkarbohidrat dalam bentuk
garam amonium atau nitrat (Gaman dan Sherrington, 1992). Selain itu juga
terjadi penambahan unsur nitrogen dari sel mikroorganisme atau senyawa volatil
yang lepas. Fermentasi telah menyebabkan terjadinya perombakan unsur organik
pakan, sehingga komponen dalam pakan menjadi lebih sederhana. Mikroorganisme
EM-4 dalam melakukan fermentasi menggunakan energi untuk memenuhi aktivitasnya.
Energi yang digunakan tersebut berasal dari perombakan ikatan-ikatan kimiawi
tertentu dan juga dihasilkan dari proses glikolisis.
Daya cerna
protein pakan
Pakan tanpa fermentasi yang diberikan kepada ayam akan menghasilkan
nilai daya cerna protein yang lebih rendah dibandingkan dengan pakan yang
difermentasi terlebih dahulu. Pakan yang difermentasi oleh mikroorganisme EM-4
mengalami perombakan menjadi lebih sederhana oleh mikroorganisme, sehingga
bahan organik yang terkandung di dalamnya lebih mudah diserap oleh tubuh. Hasil
penelitian rata- rata daya cerna protein pakan ditunjukkan pada Tabel 1. Pakan
yang difermentasi cukup palatabel dan disukai oleh ternak. Besarnya nilai
daya
cerna protein pakan ditentukan oleh besarnya nilai protein yang dikonsumsi dan
banyaknya protein yang dibuang bersama feses.
Semakin
sedikit protein yang dibuang bersama feses,
maka akan meningkatkan nilai daya cernanya.
Berdasarkan analisis varian dan hasil uji DMRT pada taraf signifikansi 5% diketahui
bahwa nilai daya cerna protein pakan pada semua
perlakuan menunjukkan perbedaan yang nyata. Nilai tertinggi daya cerna protein
pakan diperoleh pada P3 dengan konsentrasi larutan starter EM-4 15% yaitu sebesar
83,29%. Hal ini disebabkan pada konsentrasi
tersebut jumlah mikroorganisme
perombak unsur-unsur organik dalam pakan bertambah banyak, sehingga kandungan
gizi pakan (protein) akan lebih banyak dirombak menjadi lebih sederhana.
Penggunaan EM-4 pada konsentrasi larutan starter 20% (P4) tidak efektif,
besarnya nilai daya cerna protein pakan menurun yaitu 75,26%. Hal ini terjadi
karena mikroorganisme EM-4 dalam mendekomposisikan unsur-unsur organik pakan
terlalu banyak dibandingkan dengan substrat yang tersedia, sehingga menurunkan
kecepatan pertumbuhan mikroorganisme. Menurut Schlegel and Schmidt (1994), menyatakan bahwa menurunnya kecepatan pertumbuhan disebabkan
oleh keterbatasan substrat, kepadatan populasi mikroorganisme yang tinggi,
tekanan parsial oksigen yang rendah, kekurangan faktor pertumbuhan dan juga
timbunan produk metabolisme yang toksik.
Kandungan
protein daging
Menurut Palupi (1986), daging secara umum terbentuk dari beberapa unsur
pokok seperti, air, protein, lemak, mineral, vitamin dan sebagainya,
unsur-unsur tersebut tergantung umur dan makanan hewan. Daging ayam mengandung
protein antara 21-24% (Moutney, 1976). Dari Tabel 1, dapat dilihat bahwa nilai
rata-rata persentase kandungan protein daging yang difermentasi dengan EM-4
lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol (P0) yang tidak mengalami fermentasi.
Pakan dengan kandungan protein rendah akan memiliki kandungan protein daging
yang rendah pula (Kartikasari dkk, 2001), sedangkan perlakuan yang terbaik pada
perlakuan dengan penambahan larutan starter 15% adalah yaitu sebesar 23,20%.
Soeparno (1998) menyatakan bahwa
peningkatan kualitas protein dalam pakan
akan meningkatkan protein dalam tubuh. Bahan yang mengalami proses fermentasi
mempunyai nilai gizi yang lebih tinggi dari bahan asal. Hal ini disebabkan
fermentasi menghasilkan enzim-enzim tertentu yang dapat menguraikan protein
menjadi asam amino sehingga lebih mudah diserap tubuh (Winarno dan Fardiaz, 1980).
Pertambahan
berat badan
Pertambahan berat badan disebabkan secara langsung oleh ketersediaan
asam amino pembentuk jaringan sehingga konsumsi protein pakan berhubungan
langsung dengan proses pertumbuhan. Menurut Mirnawati (1998) dan Nuraini (1999)
bahwa protein yang berkulitas baik akan meningkatkan pertambahan berat badan
setiap unit protein yang dikonsumsi. Dari Tabel 1. dapat dilihat bahwa pakan
yang difermentasi dengan EM-4 mengakibatkan terjadinya peningkatan pertambahan
berat badan dibandingkan dengan kontrol. Dari hasil uji DMRT dengan taraf
signifikansi 5% diperoleh hasil yang berbeda nyata antar perlakuan. Pada
perlakuan dengan penambahan larutan starter 15% memberikan hasil yang terbaik
pada penelitian ini. Hal ini terjadi karena protein yang dikonsumsi pada
perlakuan pakan yang difermentasi, unsur gizi pakan (terutama protein) telah terjadi perombakan menjadi
lebih sederhana, sehingga lebih mudah diserap oleh tubuh. Fermentasi bahan
organik akan melepaskan asam amino dan sakarida dalam bentuk senyawa yang
terlarut dan mudah diserap oleh saluran pencernaan ayam. Hal ini menyebabkan
absorpsi dan pemanfaatan zat makanan untuk pertumbuhan menjadi lebih optimal.
Selain itu makanan yang mengalami fermentasi akan meningkatkan kandungan
vitaminnya, seperti riboflavin, vitamin B12 dan Provitamin A yang berpengaruh
terhadap pertumbuhan. Scott et al.,
(1982), menambahkan bahwa riboflavin sangat esensial untuk pertumbuhan dan
perbaikan jaringan tubuh semua hewan.
Konsumsi pakan
Ternak mengkonsumsi pakan untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat
makanan dalam tubuh. Setelah dilakukan uji DMRT dengan taraf signifikansi 5%
didapat hasil yang berbeda nyata antar perlakuan. Perlakuan pakan yang
difermentasi mengakibatkan penurunan konsumsi pakan. Perlakuan yang terbaik
terlihat pada perlakuan dengan penambahan larutan starter 15% (66,60) yaitu
jumlah konsumsi pakan paling sedikit. Hal tersebut terjadi sebagai akibat dari
proses fermentasi oleh mikroorganisme EM- 4, menghasilkan asam-asam organik
seperti asam propionat, asam butirat dan asam asetat, sehingga kebutuhan ayam
akan energi akan tercukupi dari asam-asam organik sebagai sumber energi
tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Dwidjoseputro (1987), yang menyatakan
bahwa pakan yang difermentasi EM-4 akan menurunkan konsumsi pakan karena adanya
aktivitas dalam EM-4 yang melakukan fermentasi terhadap pakan tesebut.
80
40
20
0
P0 P1 P2 P3 P4
Perlakuan pakan
Gambar 1. Pertambahan berat badan harian dan konsumsi pakan Ayam broiler setelah
pemberian pakan yang difermentasi dengan EM-4
Gambar 1. secara umum memperlihatkan bahwa dengan penambahan EM-4 pada
pakan meningkatkan pertambahan berat badan dan menurunkan konsumsi pakan.
Konsumsi pakan semakin menurun, karena fermentasi meningkatkan nilai gizi pakan
terutama kandungan protein, sehingga tidak memerlukan konsumsi pakan yang
banyak kebutuhan akan protein sudah terpenuhi. Hal tersebut dapat dilihat dari
pertambahan berat badan yang semakin meningkat. Pertambahan berat badan secara
langsung disebabkan oleh ketersediaan asam amino dalam jaringan, sehingga
konsumsi protein pakan berhubungan dengan pertumbuhan. Protein dengan kualitas
yang baik dapat meningkatkan pertambahan berat badan.
Konsumsi
protein pakan
Hasil uji DMRT dengan taraf signifikansi 5% menunjukkan bahwa perlakuan
pakan antar perlakuan pada penelitian ini berbeda nyata terhadap konsumsi
protein pakan. P0 sebagai perlakuan kontrol menunjukkan rata-rata konsumsi
protein pakan yang rendah yaitu 13,49, karena kandungan protein pakannya
juga rendah yaitu 19,19%. Pada perlakuan
dengan penambahan larutan starter 15% karena kandungan protein pada pakannya
paling tinggi yaitu 30,01%, maka konsumsi protein pakannya tertinggi yaitu
19,19. Peningkatan protein pada pakan mengakibatkan konsumsi protein pakan
meningkat. Hasil analisis statistik rata-rata konsumsi protein pakan yang
didapat dari hasil penelitian disajikan pada Tabel 1. Fermentasi pakan telah
mengubah unsur-unsur organik yang terkandung dalam pakan menjadi lebih
sederhana, selain itu mikroorganisme EM-4 dalam melakukan aktivitas pada proses
fermentasi juga berkembang dan bertambah banyak. Pakan yang difermentasi dengan
mikroorganisme EM-4 jumlah protein yang terkandung dalam pakan akan meningkat,
karena dalam pakan juga terdapat protein yang berasal dari mikroorganisme.
Konversi pakan
Pakan yang difermentasi dengan EM-4 mengakibatkan penurunan konversi
pakan. Hasil analisis statistik rata-rata konversi pakan disajikan pada Tabel
1. Berdasarkan uji DMRT terhadap konversi pakan pada taraf signifikansi 5% pada
semua perlakuan menunjukkan perbedaan yang nyata. Rata-rata nilai konversi
pakan pada perakuan kontrol tanpa fermentasi adalah 1,95 lebih tinggi daripada
pakan yang difermentasi. Nilai konversi pakan terendah pada perlakuan dengan
penambahan larutan starter 15% karena menurut Siregar dkk. (1980) jumlah
konsumsi pakan yang rendah dan adanya peningkatan pertambahan berat badan mengakibatkan
nilai konversi pakan yang diperoleh juga rendah. Tinggi rendahnya konversi
menggambarkan efisiensi pakan (Guzmanizar, 1999). Nilai konversi pakan yang
rendah dapat
meningkatkan efisiensi penggunaan pakannya dan sebaliknya nilai konversi pakan
yang tinggi menurunkan efisiensi
penggunaan pakan.
Rasio
efisiensi protein
Besarnya rasio efisiensi protein (REP) ditentukan oleh perubahan nilai
pertambahan berat badan dan konsumsi protein. Hasil uji DMRT dengan taraf uji
5% menyatakan bahwa perlakuan pakan pada penelitian ini memberikan pengaruh
nyata terhadap rasio efisiensi protein. Penurunan rasio efisiensi protein
terjadi karena meningkatnya protein pada pakan. Dari Tabel 1. dapat diketahui
bahwa nilai rasio efisiensi protein lebih kecil daripada kontrol, sedangkan
nilai terendah pada perlakuan dengan penambahan larutan starter 15% adalah
2,08. Semakin besar nilai pertambahan berat badan yang dihasilkan dan protein
yang dikonsumsi semakin besar pula, maka rasio efisiensi proteinnya akan
menurun. Peningkatan pertambahan berat badan berbanding terbalik dengan
konversi pakan dan rasio efisiensi protein. Semakin besar nilai pertambahan
berat badan yang dihasilkan, maka nilai konversi pakan dan rasio efisiensi
protein menjadi kecil.
KESIMPULAN
Penggunaan pakan yang difermentasi dengan EM-4 menyebabkan peningkatan
daya cerna protein pakan, kandungan protein daging dan pertambahan berat badan
ayam broiler. Penggunaan EM-4 dengan konsentrasi larutan starter 15% dalam
pakan merupakan campuran yang paling efektif untuk meningkatkan daya cerna
protein pakan, kandungan protein daging dan pertambahan berat badan ayam
broiler, sehingga dapat meningkatkan kualitas pakan dan efisiensi penggunaan pakan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2006. Merubah Sampah Organik Menjadi Bahan
Bernilai Ekonomis (Composting). Tangerang: PT Infratama Sakti & SWM
Composting LES.
Anggordi, R.
1990. Ilmu Makanan Ternak Umum.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama..
Departemen
Pertanian. 1996. Pedoman Penggunaan EM
bagi Negara-Nagara Asia Pacific Natural Network (APNAN). Jakarta: Badan
Pendidikan dan Latihan Pertanian. Departemen Pertanian..
Dwidjoseputro,
D. 1987. Dasar-dasar Mikrobiologi.
Jakarta: Penerbit Djambatan.
Gaman, P.M
dan K.B. Sherrington. 1992. Ilmu Pangan (Pengantar
Ilmu Pangan Nutrisi dan Mikrobiologi). Edisi kedua. Yogyakarta: GMU Press..
Gusmanizar, N. 1999. Pengaruh
penggunaan kulit biji coklat (Theobroma
cacao L) dalam ransum terhadap performa ayam broiler. Jurnal
Peternakan Universitas Andalas 5
(2): 18-27. Hafsah. 2003. Pengaruh suplementasi probiotik starbio terhadap rasio effisiensi protein ransum dan nilai karkas
ayam pedaging.
Jurnal Agroland 10 (4): 399-404.
Kartikasari,
L.R., Soeparno, dan Setiyono. 2001. Komposisi kimia dan studi asam lemak daging
dada ayam broler yang mendapat suplementasi metionin pada pakan berkadar
protein rendah. Buletin Peternakan 25
(1): 33-39.
Mountney, G.J. 1976. Poultry Products Technology. 2nd ed.
Westport
Connecticut: The Avi Publishing Co, Inc..
Nesheim,
M.C., R.E. Austic, and L.E.Card. 1979. Poultry
Production. 12th edition. Philadelphia: Lea and Fabinger.
Nuraini.
1999. Pengujian kualitas protein ransum yang memakai limbah pemotongan ayam
broiler. Jurnal Peternakan dan Lingkungan
5 (2): 16-21.
Palupi, W.D.E. 1986. Tinjauan Literatur Pengolahan Daging.
Jakarta: Pusat
Dokumentasi Ilmiah Nasional LIPI.
Sabrina, Y.,
Yellita, dan E. Syahfrudin. 2001. Pengaruh pemberian ubi kayu fermentasi (KUKF)
terhadap bobot organ fisiologis ayam broiler. Jurnal Peternakan dan Lingkungan 6 (2): 20-25.
Schlegel, H.G
and K. Schmidt. 1994. Mikrobiologi Umum.
Edisi keenam. Penerjemah: Tedjo, B. Yogyakarta: GMU Press.
Scott, M.L, M.C Neishem, and
R. J Young. 1982. Nutrition of Chicken. 3rd edition. New York: M.L
Scott and Assosiates. Siregar, A.P., M
Sabrani, dan Suroprawiro. 1980. Tehnik Beternak Ayam Pedaging di Indonesia.
Jakarta: Margie Group.
Soeparno.
1998. Ilmu dan Teknologi
Daging. Cetakan 3.
Yogyakarta:
GMU Press.
Subadiyasa,
N.N. 1997. Teknologi Effective
Microorganism (EM): Potensi dan Prospeknya di Indonesia. Dalam Seminar
Nasional Pertanian Organik. Jakarta.
Sudarmadji
Slamet dkk. 1981. Prosedur Analisa Untuk
Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta: Penerbit Liberty.
Sudarsana, K.
2000. Pengaruh effective microorganism-4 (EM-
4) dan kompos terhadap produksi jagung manis (Zea mays.L. saccharata) pada tanah
entisols. FRONTIR. 32: 1-5.
Wahyu, J. 1997. Ilmu
Nutrisi Unggas. Yogyakarta: GMU Press. Widyawati, S.D., R Murni, dan A
Latief. 2002. Suplementasi
Pakan Sumber Protein dalam Ransum Berbahan Dasar Kulit Buah Kopi yang
Terfermentasi dengan Dua Sumber Bakteri Asam Laktat. [Laporan Penelitian]. Padang:
Fakultas Peternakan Universitas Andalas.
Winarno, F.G.
dan O. Fardiaz. 1980. Pengantar Teknologi
Pangan. Jakarta: PT Gramedia.
Yitnosumarto,
S. 1993. Perancangan Percobaan, Analisis
dan Interprestasinya. Jakarta: PT Gramedia.
Rabu, 08 November 2017
Jumat, 16 Juni 2017
Jumat, 09 Juni 2017
Langganan:
Komentar (Atom)













